by

Ada “Arah Baru” di MUI

-Konsultasi, Religius-7,884 kali dibagikan

By: Nandang Burhanudin | Ketua Garbi Jabar
*****

(1)
Gebyar narasi Arah Baru, kini tidak lagi didominasi penggemar pemikiran Anis Matta. Secara organisasi, juga tidak dimonopoli Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI). Narasi Arah Baru sudah menjadi konsumsi publik, salah satunya MUI.

(2)
Tak tanggung-tanggung. Kajian alias diskusi Arah Baru di MUI dilakukan secara marathon. Temanya berkisar Arah Baru Umat Islam di bidang Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Perbedaan Madzhab, hingga filantropi.

(3)
Saya sangat berharap, MUI serius dan fokus menerjemahkan narasi Arah Baru keumatan. Tidak berhenti sampai kajian, yang hasilnya kembali untuk didiskusikan. Alasannya jelas, umat Islam memerlukan guidance di tengah prahara ketidakberdayaan.

(4)
Tidak seperti narasi-narasi yang marak sebelum dan paskareformasi. Marak di awal, lalu menguap di telan awan. Organisasi bentukan, sekedar heboh pada saat deklarasi. Misalnya narasi soal civil society alias masyarakat Madani. Nasibnya bak bayang-bayang indah yang selalu telat mendarat.

(5)
MUI sudah bagus menginisiasi diskusi Arah Baru Umat, bersama para pakar di bidangnya. Namun level MUI harus naik. Tidak lagi jadi fasilitator diskusi. Tapi harus memutus mata rantai ketidakberdayaan dalam menggerakkan wacana menjadi sebuah gerakan bersifat masif.

(6)
Sama halnya narasi civil society, narasi Arah Baru Umat juga seharusnya dapat menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya kemandirian, kesetaraan, kesamaan hak dan keadilan sosial. Melahirkan pemberdayaan, penguatan, dan pembebasan dari mental block akut.

(7)
Akankah narasi Arah Baru tetap setia berada di ruang periferi? Memulai langkahnya dari mana? Tentu seabreg pertanyaan siap dilontarkan. Semua diawali dengan modernisasi pola fikir organisasi MUI, sekaligus regenerasi agar tidak dimonopoli kaum tua secara fisik dan pemikiran.

(8)
Syukurnya, kita berada di negara yang masyarakatnya cepat lupa dan gampang tergopoh heboh dengan hal lama yang dikemas ulang. Masyarakat sudah tidak lagi mendengar narasi civil society. Boleh jadi narasi Arah Baru juga menghilang begitu saja, dalam senyap, tak berbekas. Satu hal tersisa: residu yang melahirkan pesimisme, seakan Indonesia dan umat Islam maju, mustahil dicapai.

Kategori Terkait