by

Lagi, Diduga Wafat Usai Vaksin Covid-19 di Tangerang, Komnas KIPI: Akan Diinvestigasi!

-Berita, Daerah-10,771 kali dibagikan

Geloratangsel.com, Tangerang – Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Prof. Hindra Irawan Satari memastikan akan segera melakukan investigasi adanya dugaan kasus meninggal akibat vaksin Covid-19 di Tangerang.

Joko Santoso, seorang peserta vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Kunciran Baru, Tangerang meninggal dunia pada Rabu (23/6) usai disuntik vaksin pada Selasa (15/6) lalu.

“Baiklah, terima kasih informasinya, Akan dikonfirmasi kepada Komda (Komisi Daerah) KIPI Banten untuk diinvestigasi,” ujar Prof. Hindra saat dihubungi suara.com, Kamis (24/6/2021)

Prof. Hindra memastikan apabila hasil data investigasi lengkap, Komnas KIPI akan segera membuka informasi yang sebenarnya kepada publik, terkait penyebab meninggalnya Joko Santoso dan keterkaitannya dengan vaksinasi.

“Setelah lengkap datanya akan diaudit bersama Komnas, dalam waktu yang tidak terlalu lama,” terangnya.

Ia menambahkan durasi investigasi dan audit ditentukan berdasarkan kelengkapan data yang diperoleh tim lapangan, yang juga akan mempermudah kajian dan analisis penyebab kematian

“Makin sedikit data, makin sulit untuk menentukan keterkaitan KIPI dengan imunisasi yang diberikan, dan makin lama mengeluarkan rekomendasi,” pungkas Prof. Hindra.

Kronologi meninggalnya Joko Santoso

Diceritakan istri Joko Santoso, Putri Rahmawati (31), awal-mulanya suaminya mengikuti vaksinasi Covid-19. Awalnya Joko Santoso mendapatkan undangan vaksinasi di Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangerang. Namun batal divaksin.

Setelah tak mendapatkan jatah di Puspemkot, Joko memilih menjalani vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Kunciran Baru, Pinang, Kota Tangerang pada Selasa (15/6).

Namun setelah dilakukan penyuntikan, korban merasakan demam yang tinggi hingga batuk tanpa henti.

“Itu ditensi darah 160, Suami saya (Joko) ya udah saya ngga bicara A, B, atau C ya, Karena yang berhak tau itu kan mereka, petugas kesehatan mengizinkan atau tidaknya,” kata Putri saat ditemui di rumahnya.

Lanjut, Putri, setelah mengalami gejala tersebut, ia terpaksa membawa suaminya berobat ke puskemas terdekat. Akan tetapi, mendapatkan penolakan lantaran kapasitasnya yang sudah penuh.

“Ke Puskesmas ditolak, katanya penuh, terus orang Puskesmas bilang ‘dirawat di rumah aja’, soalnya rumah sakit juga penuh semua,” kata Putri.

Seiring berjalannya waktu hingga memasuki hari ke-8, korban akhirnya meninggal dunia di rumahnya, Rabu (23/6) pukul 16.00 WIB.

Kategori Terkait